Selasa, 13 Oktober 2009

CULTURAL ANTROPOLOGY - Kebudayaan Tiong Hua


KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena dengan karunianya kami dapat menyelesaikan makalah ini. Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk menambah pengetahuan mengenai Antropologi khususnya bagi pembaca tentang “Antropologi Budaya Tionghoa”.

Pada kesempatan ini kami menyampaikan terima kasih kepada :

  1. Ibu Tutik Dwi Winarni, SE, MM., selaku dosen pada mata kuliah Cultural Anthropology yang telah mencurahkan ilmunya kepada kami,
  2. Rekan-rekan kelompok dan semua pihak yang telah membantu terselesaikannya makalah ini.

Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran yang bersifat membangun kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini.

Kami berharap makalah ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua.

Jakarta, Oktober 2008

Penulis,

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Penulisan

Ilmu Antropologi adalah salah satu cabang ilmu sosial yang mempelajari tentang budaya masyarakat suatu etnis tertentu. Salah satu cabang ilmu Antropologi, adalah Antropologi Budaya. Setiap negara memiliki kebudayaan atau ciri khas masing-masing yang menunjukkan jati diri dari negaranya, dan kami mengambil kebudayaan Tionghoa sebagai dasar dari penulisan makalah ini. Makalah ini dibuat dengan maksud untuk menerapkan pelajaran Antropologi Budaya dengan kebudayaan Tionghoa secara keseluruhan dan juga untuk mengidentifikasikan mengenai unsur-unsur kebudayaan Tionghoa.

1.2 Perumusan Masalah

Bagaimana penerapan unsur-unsur budaya sebagai kebudayaan universal di budaya Tionghoa?

1.3 Tujuan Penulisan Makalah

Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis unsur kesenian Tionghoa yang terdiri dari 7 unsur kebudayaan universal, yaitu;

1.3.1 Bahasa Tionghoa

1.3.2 Sistem Teknologi dan Alat Produksi

1.3.3 Sistem Mata Pencaharian

1.3.4 Organisasi Sosial

1.3.5 Sistem Pengetahuan

1.3.6 Sistem Religi

1.3.7 Kesenian Tionghoa

BAB II

KERANGKA TEORITIS

2.1 Definisi Antropologi

Antropologi adalah salah satu cabang ilmu sosial yang mempelajari tentang budaya masyarakat suatu etnis tertentu.

2.1.1 Definisi Etimologis Antropologi

Antropologi adalah istilah kata yang berasal dari bahasa Yunani yang berasal dari kata anthropos yang artinya manusia atau orang dan logos yang berarti ilmu.

2.1.2 Definisi Konseptual Antropologi

Para ahli mendefinisikan antropologi sebagai berikut:

William A. Haviland

Antropologi adalah studi tentang umat manusia, berusaha menyusun generalisasi yang bermanfaat tentang manusia dan perilakunya serta untuk memperoleh pengertian yang lengkap tentang keanekaragaman manusia.

David Hunter

Antropologi adalah ilmu yang lahir dari keingintahuan yang tidak terbatas tentang umat manusia.

Koentjaraningrat

Antropologi adalah ilmu yang mempelajari umat manusia pada umumnya dengan mempelajari aneka warna, bentuk fisik masyarakat serta kebudayaan yang dihasilkan.

Ralfh L Beals dan Harry Hoijen

Antropologi adalah ilmu yang mempelajarai manusia dan semua apa yang dikerjakannya

Tulian Darwin

Antropologi fisik berkembang pesat dengan melakukan penelitian-penelitian terhadap asal mula dan perkembangan manusia. Manusia asalnya monyet, karena makhluk hidup mengalami evolusi. Antropologi ingin membuktikan dengan melakukan berbagai penelitian terhadap kera dan monyet di seluruh dunia.

2.1.3 Definisi Operasional Antropologi

Dari sejumlah pakar-pakar yang telah kami sebutkan di atas, kelompok kami merangkumnya dan membuat definisi operasional dari antropologi. Menurut kami, antropologi adalah suatu ilmu yang mempelajari tentang manusia sebagai makhluk hidup dan makhluk sosial dengan segala yang dikerjakannya.

2.1.4 Instrumen Variabel Antropologi

Variabel

Dimensi

Indikator

A

N

T

R

O

P

O

L

O

G

I

Ilmu

Makhluk hidup

  • Sosial
  • Eksakta

  • Manusia
  • Hewan
  • Tumbuhan

2.2 Definisi Kebudayaan

Budaya atau kebudayaan adalah suatu pola dari keseluruhan keyakinan dan harapan yang dipegang teguh secara bersama oleh semua anggota suatu masyarakat

2.2.1 Definisi Etimologis Kebudayaan

Kata budaya berasal dari bahasa Sansekerta yaitu buddhayah yang merupakan bentuk jamak dari buddhi yang berarti budi atau akal atau hal-hal yang berhubungan dengan akal manusia.

2.2.2 Definisi Konseptual Kebudayaan

Para ahli mendefinisikan kebudayaan sebagai berikut:

Andreas Eppink

kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian, nilai, norma, ilmu pengetahuan, serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius, dan lain-lain, tambahan lagi segala pernyataan intelektual dan artistik yang menjadi ciri khas suatu masyarakat.

Edward B. Tylor

Kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat.

Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi

Kebudayaan adalah sarana hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat.

Ki Hajar Dewantara

Kebudayaan adalah buah budi manusia, hasil perjuangan manusia terhadap dua pengaruh kuat, yakni alam dan zaman (kodrat dan masyarakat) yang merupakan bukti kejayaan hidup manusia untuk mengatasi berbagai rintangan dan kesukaran di dalam hidup dan penghidupannya guna mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang pada lahirnya bersifat tertib dan damai.

Sutan Takdir Alisyahbana

Kebudayaan adalah manifestasi dari cara berpikir sehingga pola kebudayaan itu sangat luas. Sebab, semua laku dan perbuatan tercakup di dalamnya dan dapat dan diungkapkan pada basis dan cara berpikir termasuk di dalamnya perasaan karena perasaan juga merupakan maksud dari pikiran.

2.2.3 Definisi Operasional Kebudayaan

Kebudayaan adalah akal budi yang dimiliki oleh manusia yang berisi keseluruhan pengertian, norma, adat-istiadat dan cara berfikir yang harus kita lestarikan agat tidak hilang karena berjalannya waktu.

2.2.4 Instrumen Variabel Kebudayaan

Variabel

Dimensi

Indikator

K

E

B

U

D

A

Y

A

A

N



2.3 Definisi Masyarakat

2.3.1 Definisi Masyarakat Etimologis

Kata "masyarakat" sendiri berakar dari kata dalam bahasa Arab, musyarak, yang artinya suatu jaringan hubungan-hubungan antar entitas-entitas.

2.3.2 Definisi Masyarakat

· Menurut kamus “Wikipedia”, masyarakat adalah sekelompok orang yang membentuk sebuah sistem semi tertutup (atau semi terbuka), dimana sebagian besar interaksi adalah antara individu-individu yang berada dalam kelompok tersebut.

· Menurut Smith, Stanley dan Shores, masyarakat adalah suatu kelompok individu-individu yang terorganisasi serta berfikir tentang diri mereka sendiri sebagai suatu kelompok yang berbeda.

· Menurut Znaniecki, masyarakat merupakan suatu sistem yang meliputi unit biofisik para individu yang bertempat tinggal pada suatu daerah geografis tertentu selama periiode waktu tertentu dari suatu generasi.

· Menurut Liton yang dikutip oleh Indan Encang, masyarakat adalah setiap kelompok manusia yang telah cukup lama hidup dan bekerja sama, sehingga mereka itu dapat mengorganisasikan dirinya dan berpikir tentang dirinya sebagai satu kesatuan sosial dengan batas-batas tertentu.

· Menurut W F Connell, masyarakat adalah 1) suatu kelompok orang yang berpikir tentang diri mereka sendiri sebagai kelompok yang berbeda, diorganisasi, sebagai kelompok yang diorganisasi secara tetap untuk waktu yang lama dalam rintang kehidupan seseorang secara terbuka dan bekerja pada daerah geografls tertentu, (2) kelompok orang yang mencari penghidupan secara berkelompok, sampai turun temurun dan mensosialkan anggota anggotanya melalui pendidikan, (3) suatu ke orang yang mempunyai sistem kekerabatan yang terorganisasi yang mengikat anggota-anggotanya secara bersama dalam keselurühan yang terorganisasi.

2.3.3 Definisi Operasional

Masyarakat adalah suatu kelompok orang yang berpikir tentang diri mereka sendiri sebagai kelompok yang berbeda diorganisasi yang telah cukup lama hidup, bekerja sama, dan bertempat tinggal pada suatu daerah geografis tertentu selama periode waktu tertentu.

2.3.4 Instrumen Variabel Antropologi

Variabel Teori Masyarakat

Dimensi

Indikator

M

A

S

Kelompok

Kelompok statis, kemasyarakatan, sosial, asosiasi

Y

A

R

A

Kerja sama

Kerja sama nasional dan internasional

K

A

T

Geografis

Geografi fisik, Manusia, Manusia-Lingkungan, Perencanaan dan Pengembangan Wilayah, Ekologi Budaya dan politik, Penelitian Resiko Bencana, Geografi Sejarah

BAB III

ANALISIS PEMBAHASAN

3.1 Unsur Bahasa Tiong Hoa

Bahasa Tionghoa (汉语/漢語, 华语/華語, atau 中文; pinyin: hànyǔ, huáyǔ, atau zhōngwén) adalah bagian dari kelompok bahasa Sino-Tibet. Meskipun kebanyakan orang Tionghoa menganggap berbagai varian bahasa Tionghoa lisan sebagai satu bahasa, variasi dalam bahasa-bahasa lisan tersebut sebanding dengan variasi-variasi yang ada dalam bahasa Roman; bahasa tertulisnya juga telah berubah bentuk seiring dengan perjalanan waktu, meski lebih lambat dibandingkan dengan bentuk lisannya, dan oleh sebab itu mampu melebihi variasi-variasi dalam bentuk lisannya.

Sekitar 1/5 penduduk dunia menggunakan salah satu bentuk bahasa Tionghoa sebagai penutur asli - bahasa Tionghoa merupakan bahasa dengan jumlah penutur asli terbanyak di dunia. Bahasa Tionghoa (dituturkan dalam bentuk standarnya, Mandarin) adalah bahasa resmi Cina dan Taiwan, salah satu dari empat bahasa resmi Singapura, dan salah satu dari enam bahasa resmi PBB.

Istilah dan konsep yang digunakan orang Tionghoa untuk berpikir tentang bahasa berbeda dengan yang digunakan orang-orang Barat; ini disebabkan oleh efek pemersatu aksara Tionghoa yang digunakan untuk menulis dan juga oleh perbedaan dalam perkembangan politik dan sosial Cina dibandingkan dengan Eropa. Cina berhasil menjaga persatuan budaya dan politik pada waktu yang bersamaan dengan jatuhnya kerajaan Romawi, masa di mana Eropa terpecah menjadi negara-negara kecil yang perbedaannya ditentukan oleh bahasa.

Sebuah perbedaan utama antara konsep Cina mengenai bahasa dan konsep Barat akan bahasa, ialah bahwa orang-orang Cina sangat membedakan bahasa tertulis (wen) dan bahasa lisan (yu). Pembedaan ini diperluas sampai menjadi pembedaan antara kata tertulis (zi) dan kata yang diucapkan (hua). Sebuah konsep untuk sebuah bahasa baku yang berbeda dan mempersatukan bahasa lisan dengan bahasa tertulis ini dalam bahasa Tionghoa tidaklah terlalu menonjol. Ada beberapa varian bahasa Tionghoa lisan, di mana bahasa Mandarin adalah yang paling penting dan menonjol. Tetapi di sisi lain, hanya ada satu bahasa tertulis saja. (Lihat paragraf di bawah ini).

Bahasa Tionghoa lisan adalah semacam bahasa intonasi yang berhubungan dengan bahasa Tibet dan bahasa Myanmar, tetapi secara genetis tidak berhubungan dengan bahasa-bahasa tetangga seperti bahasa Korea, bahasa Vietnam, bahasa Thailand dan bahasa Jepang. Meskipun begitu, bahasa-bahasa tersebut mendapat pengaruh yang besar dari bahasa Tionghoa dalam proses sejarah, secara linguistik maupun ekstralinguistik. Bahasa Korea dan bahasa Jepang sama-sama mempunyai sistem penulisan yang menggunakan aksara Tionghoa, yang masing-masing dipanggil Hanja dan Kanji. Di Korea Utara, Hanja sudah tidak lagi digunakan dan Hangul ialah satu-satunya cara untuk menampilkan bahasanya sementara di Korea Selatan Hanja masih digunakan. Bahasa Vietnam juga mempunyai banyak kata-kata pinjam dari bahasa Tionghoa dan pada masa dahulu menggunakan aksara Tionghoa.

3.2 Sistem Teknologi dan Alat Produksi

Teknologi dalam kebudayaan Tiong-Hoa mengalami perkembangan yang sangat luar biasa mulai dari dibuatnya pedang, tombak, kampak, busur, anak panah, dan baju zirah yang terbuat dari rantai-rantai besi, yang digunakan pada zaman kerajaan/ dinasti untuk berperang, hingga diciptakannya sistem pembayaran dengan uang untuk pertama kalinya di dunia pada masa Kerajaan Chin. Lalu berlanjut hingga dibuatnya mangkuk yang bentuknya mirip dengan setengah bola, berdiameter +15cm dan tinggi 10 cm sebagai tempat atau wadah untuk makan, serta sumpit yaitu alat untuk makan yang terbuat dari bambu berbentuk panjang dengan diameter 0.5cm dan tinggi +10cm.

Alat transportasi yang digunakan pada zaman itu adalah kuda dan alat untuk berkomunikasi dengan orang yang tinggalnya berjauhan digunakan burung merpati. Makanan khas TiongHoa sangatlah beragam, tetapi yang benar-benar khas dari TiongHoa adalah Dim Sum, bakut teh, bubur, ca kwe, dan masih banyak lagi. Untuk pakaian khas budaya Tiong Hoa adalah pakaian Chong Sam, berbentuk seperti kebaya namun terbuat dari bahan sutra dan panjang hingga menutupi kaki, lalu aksesoris khasnya adalah giok dan tusuk rambut. Rumah-rumah khas tiong Hoa biasanya terbuat dari kayu dan bambu, mereka cenderung menggunakan artifak naga, macan ataupun dewa-dewi yang mereka puja pada dinding rumah, bentuknya umum seperti rumah 2 lantai, namun yang unik adalah pada jendela, mereka menggunakan seperti kertas sebagai ganti kawat nyamuk.

BAB IV

PENUTUP

4.1 Kesimpulan

4.2 Saran

Saran yang dapat kami berikan adalah agar masyarakat keturunan mampu menajaga kebudayaan yang ada dari jaman dahulu selain itu diharapkan juga agar dapat melestarikan kebudayaan yang dimilik agar tidak hilang oleh seiring berjalanannya waktu. Kita harus mampu menghargai kebudayaan yang ada karena kebudayaan tersebut kita di kenal oleh masyarakat lainnya. Kita harus mampu membuat kebudayaan kita semakin di terima oleh orang lain dan orang lain tidak melihat rendah terhadap budaya yang kita miliki. Kebudayaan yang dimiliki harus mampu menjaga hubungan antar anggota masyarakat yang satu dengan yang lainnya.

DAFTAR PUSTAKA

id.wikipedia.org

http://id.wikipedia.org/wiki/Masyarakat
www.lapan.go.id
http://pakguruonline.pendidikan.net/buku_tua_pakguru_dasar_kpdd_15.html)/ (Smith, Stanley, Shores, 1950, p. 5)
(http://pakguruonline.pendidikan.net/buku_tua_pakguru_dasar_kpdd_15.html)/ (F Znaniecki, 1950, p. 145)

(
http://pakguruonline.pendidikan.net/buku_tua_pakguru_dasar_kpdd_15.html)/ (1982, p.14)
(
http://pakguruonline.pendidikan.net/buku_tua_pakguru_dasar_kpdd_15.html)/ (1972, p. 68-69)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar